Adf.ly

Kamis, 27 September 2012

Sultan Ageng Tirtayasa



Sultan Ageng Tirtayasa adalah seorang di antara putra Sul­tan Abdul ma’ali Achmad dan perkawinannya dengan Ratu Mar­takusuma, seperti diketahui Sultan Abdul Ma’ali Achmad adalah putra Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir yang memenintah Banten 1596-1651. Dan catatan sejarah diketahui bahwa Ratu Martakusuma adalah seorang putri dan Pangeran Jakarta Wijayakrama. Pada waktu muda ia bergelar Pangeran Surya, adapun saudara seayah dan seibu dan Pangeran Surya adalah Ratu Kulon, Pangeran Kulon, Pangeran Lor dan Pangeran Raja. Adapun saudara-saudara yang seayah saja ialah Pangeran Wetan, Pangeran Kidul dan Ratu Tinumpuk.

Setelah Pangeran Surya itu diangkat oleh kakeknya sebagai Sultan Muda pengganti ayahnya yang wafat, maka ia diberi gelar Pangeran Ratu atau Pangeran Dipati. Pangeran Ratu diangkat menjadi Sultan pengganti kakeknya yang bernama Abdul Mafakir Mahmud Abdul Kadir (Uka Tjandrasasmita. 1967:8). Sejak ia memegang tampuk pemerintahan serta sudah niendapat restu dan Mekkah, ia mendapat gelar Sultan Abul Fath Abdul Fattah. Di antara isteri-isteri yang disebut-sebut dalam cerita sejarah Banten ialah Nyai Gede Ayu dan Ratu
Nengah. Nyai Gede Ayu adalah putri seorang ponggawa yang karena amat cantiknya dapat inenarik perhatian Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah. Perkawinan dengan Ratu Ayu tersebut di­lakukan setelah isteri pertamanya meninggal yang dalam seja­rah Banten tidak disebutkan namanya. Di antara putra-putra Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah yang mencapai usia dewasa ialah Pangeran Purbaya dan Pangeran Gusti yang juga dikenal kelak dengan julukan Sultan Haji (Michrob, Halwany, dkk.1990).
Sejak Sultan Abul Fathi Abdul Fattah bertentangan dengan putranya yang bernama Sultan Haji atau Abu Nas’r Abdul Kohar itu, tatkala beliau telah mengundurkan din dan peme­rintahan sehari-hari, maka ia pergi ke Tirtayasa dan men­dirikan keraton yang baru di tempat itu. Sejak bersemayam di tempat mi ia dikenal dengan julukan Sultan Ageng Tintayasa, julukan inilah yang paling dikenal hingga kini di kalangan bang­sa asing, sebagaimana ternyata dan catatan-catatan sejarahnya (Tjandrasasmita, 1967:9).
Sultan Abdul Mafakhin Abdul Kadir wafat pada tahun 1651 dan dibenitakan pula oleh cucunya itu kepada penguasa di Mek­kah. Untuk mempersiapkan utusan persahabatan itu, diperin­tahkan Mangkubumi Pangeran Mandura mengkabarkannya kepada Arya Mangunjaya, Mas Dipaningrat dan setiap warga. Mangkubumi memberitahukan kepada mereka bahwa sultan bermaksud menginimkan utusan ke Mekkah yaitu Santni Betot dengan tujuh orang lainnya. Utusan tensebut kecuali untuk me­nyampaikan surat benita wafat kakeknya, juga berniat mernperkokoh kedudukannya sebagai Sultan pengganti. Selang beberapa waktu lamanya maka utusan dan Banten sudah sam­pai dan kemudian kembali dan Mekkah. Utusan dan Mekkah sendiri yang datang bersama utusan Banten tendiri dan Sayid Au, Abdul Nabi, dan Haji Salim. Mereka itu kecuali membawa bingkisan juga membawa pesan untuk memberi gelar Sultan yang lengkapnya adalah: Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah. Sikap waspada terhadap musuh senantiasa jadi pedoman bagi Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah. Sikap tidak mau tunduk begitu saja terhadap kompeni Belanda tenlihat nyata dan usaha­usahanya melancarkan garilya-genilya terutama di daerah Angke Tangerang yang sejak lama merupakan front terdepan, bahkan menurut berita dan kompeni Belanda sendiri Sultan.
Banten pada sekitar 1652 mangiririkan sejumlah besar ten­taranya untuk mangadakan penyerangan terhadap kompeni Be­landa di Jakarta. Memang benar Sultan Ageng Tirtayasa sejak memegang tampuk pemerintahan sebagai Sultan Banten sening menginimkan sejumlah besar tentaranya di daratan maupun di lautan untuk mangganggu kompeni. Peristiwa-peristiwa yang kecil-kecil selalu tenjadi di berbagai front tempat kedua belah pihak bertemu. Dengan demikian pihak kompeni Belanda mulai merasa khawatir, lebih-lebih perjanjian antara Jakarta dengan Banten yang dibuat awal bulan September 1645 yang hanus diperbarui masih menunjukkan tanda-tanda kegagalan dalam pembaruannya. Karena Banten terus melancankan gerilyanya, maka oleh kompeni Belanda dijawab dengan blokade pelabuhan­pelabuhan yang termasuk kesultanan Banten. Pada masa itu kapal-kapal asing lainnya yang hendak berdagang dan masuk di Banten terpaksa mengarahkan haluannya ke negara-negara lain. Sebaliknya, putranya yang bernama Sultan Abu Nas’r Abdul Kahar atau Sultan Haji berbeda haluan dan mudah dipengaruhi oleh kompeni Belanda sehingga kemerdekaan Ban-ten dikorbankannya. (Michrob, Haiwany. 1992)
Keraton yang terletak di Tirtayasa itu letaknya amat strategis balk untuk perlawanan di lautan maupun di daratan karena tempat itu kecuali terletak di tepi pantai juga tenletak di jalan kuno yang dapat dipergunakan untuk manghubungkan serta mempercepat bantuan tentara-tentara yang dengan mudah mencapai daerah Jakarta. Dan Tirtayasa itulah Sultan Ageng Tirtayasa marencanakan dan melaksanakan pemba­ngunan di bidang pertanian dan pengairan.
Saluran yang mudah dilayari perahu-perahu kecil digali se­panjangjalan kuno, yakni dan sungai Untung Jawa (Cisadane), Tanara hingga ke Pontang. Diakui pula oleh Gubernur Jenderal John Maestsuyker dan Dewan Hindia bahwa pembuatan saluran air itu adalah untuk dipergunakan sewaktu-waktu untuk perjanjian, pengiriman utusan-utusan dan sebagainya. Karena kesibukan sehari-hari sudah kurang maka Sultan Ageng mulai bertempat tinggal tetap di keraton Tirtayasa. Sebenarnya dan tempat itu pula ia dapat mengawasi gerak-gerik putranya yang inemegang tampuk pemerintahan sehari-hari di Surosowan. Karena memang kekuasaan kesultanan Banten masih ada pada tangan Sultan Ageng Tirtayasa selaku Sultan tua. Keadaan mi pulalah yang digunakan untuk menghasut Sul­tan Haji supaya menentang kebijaksanaan ayahnya, dan men­dorong Sultan Haji untuk segera memperoleh kekuasaan penuh di Banten karena memang Sultan Haji sangat berkeinginan untuk itu.
Satu hal pula yang mengecewakan Sultan Ageng Tirtayasa, adalah surat ucapan selamat yang dikirimkan Sultan Haji atas, diangkatnya kembali Speelman menjadi Gubernur Jenderal VOC menggantikan Rijklof van Goens pada tanggal 25 Novem­ber 1680. Padahal pada saat itu Kompeni baru saja manghan­curkan pasukan gerilya Banten di Cirebon dan yang kemudian menguasai Cirebon seluruhnya.
Melihat keadaan anaknya yang sudah demikian itu, Sultan Ageng memobilisasikan pasukan perangnya untuk digunakan sewaktu-waktu. Rakyat dan daerah Tanahara, Pontang, Tir­tayasa, Caringin, Carita dan sebagainya banyak yang mendaf­tarkan din menjadi Prajurit. Demikian pula tentara pelarian dan Makasar, Jawa Timur, Lampung, Solebar, Bengkulu dan Cirebon bergabung dengan pasukan Sultan Ageng Tirtayasa. Bahkan satu regu pasukan Sultan Haji yang diutus untuk menyelidiki kekuatan di Tirtayasa ikut pula bergabung dengan Sultan Ageng. Sultan sudah tidak perduli lagi dengan tentara dan barigsawan yang berpihak kepada Sultan Haji yang diang­gapnya sudah berpindah adat dan berbeda haluan (Ambary, Hasan, dkk. 1992)
Dalam suasana yang sudah demikian panas, Sultan Ageng mendengar khabar bahwa beberapa kapal Banten yang pulang dan Jawa Timur ditahan Kompeni karena dianggap kapal perompak. Tuntutan Sultan Ageng supaya mereka dibebaskan tidak diindahkan. Hal mi membuat kemarahan Sultan menjadi­jadi. Rasa harga din sebagai Sultan dan satu negara merdeka tenasa diremehkan. Maka diumumkannya bahwa Banten dan Kompeni Belanda ada dalam situasi perang. Keputusan Sultan Ageng mi ditentang oleh anaknya, Sultan Haji. Dia menyanggah atas dimaklumkannya perang atas Kom­peni Belanda, karena keputusan itu terlalu ceroboh dan tidak dimusyawanahkan terlebih dahulu dengannya. Dengan ben­modalkan dukungan pasukan Kompeni yang dijanjikan pada­nya, Sultan Haji memakzulkan ayahnya. Dikatakannya bahwa ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa, sudah terlalu tua dan sudah pikun, sehingga mulai saat itu kekuasaan Banten seluruhnya dipegang oleh Sultan Haji (Hamka, 1976:307).
Melihat tingkah-laku anaknya itu dan juga untuk menyatukan kekuatan pasukan Banten guna menyerbu Batavia, maka pada tanggal 26 malam 27 Februari 1682 dengan dipimpin sendini oleh Sultan Ageng, diadakanlah penyerbuan ke Surosowan. Panyerbuan mendadak mi berhasil mematahkan pelawanan pasukan Sultan Haji yang dalam waktu singkat is­tana dapat dikuasainya. Sultan Haji sendiri melarikan din dan minta perlindungan kepada Jacon de Roy bekas pegawai Kom­peni (Tjandrasasmita, 1967:41)
Keadaan mi segera dapat diketahui Batavia. Maka pada tanggal 6 Maret 1682 dipimpin olëh Sam Martin dikirimkannya dua kapal perang lengkap dengan pasukan perangnya. Akhirnya setelah terjadi pentempuran yang lama dan dibantu pula oleh pasukan besar yang dipimpin oleh Kapten Francois Tack dan Kapten Hartsinck, Surosoan dapat dikuasai Belanda. Sultan Ageng Tirtayasa dengan sisa pasukannya bergerak munidur ke Kademangan dan Tanahara. Baru pada tanggal 28-29 Desemben 1882 Tanahara pun dapat direbut pasukan Kompeni yang dipim­5 pin oleh Kapten Jonker. Demikian pulalah dengan Tirtayasa se­bagai pentahanan terakhin pasukan Sultan Ageng. Atas penintah Sultan Ageng, selunuh pasukan yang masih ada diharuskan mundur ke anah selatan ke hutan Keranggan. Tapi sebelumnya Sultan memenintahkan pula supaya istana dan bangunan lainnya di Tintayasa dibakar. Sultan tidak rela ha­ngunan-bangunan itu diinjak oleh kafin dan pendunhaka (Tjandrasasmita, 1987:44)
Dan hutan Keranggan, Sultan Ageng Tirtayasa dan seluruh pasukannya melanjutkan perjalanan ke Lebak. Satu tahun me­neka melakukan perang genilya dan sana. Tetapi akhinnya Lebak pun dikepung, sehiagga pasukan Sultan Ageng tenpecah menjadi dua bagian. Pangeran Purbaya dan sejumlah ten­taranya bergerak di daerah sekitar Parijan, di pedalaman Tangerang. Sultan Ageng, Pangeran Kidul, Pangeran Kulon, Syekh Yusuf beserta pasukannya bengenak ke daenah Sajira di perbatasan Bogon.
Sultan Haji berusaha keras agar ayahnya dapat kembali ke Surosowan. Dengan petunjuk serta nasehat kompeni yang ingin melakukan tipu daya halus maka Sultan Haji mengirimkan surat kepada ayahnya di Sajira. Sesudah utusan pembawa surat itu datang di Sajira dan ditenima Sultan Ageng Tirtayasa, de­ngan tidak cuniga sedikit pun Sultan yang kala itu usianya sudah lanjut kembali ke Surosowan setelah ia bertahan di hutan. Tambahan pula seminggu sebelumnya yakni pada tang-gal 7 Maret 1683 Pangeran Kulon gugur ditikam oleh orang upahan kompeni. Sultan Ageng Tirtayasa dengan bebenapa pe­ngawalnya sampailah di Surosowan dan langsung menemui putranya yang telah menantikan kedatangan ayahnya. Peneni­maan Sultan Haji sangat balk meskipun di belakangnya telah ada maksud tertentu atas bujukan kompeni. Kedatangan di Surosowan itu tepat pada tanggal 14 Maret 1683 saat tengah malam. Tetapi setelah beberapa saat Iamanya tinggal di kenaton Surosowan ia ditangkap oleh kompeni untuk segera dibawa ke Jakarta. Memang itulah maksud dan tipu daya kompeni atas kerjasama dengan Sultan Haji. Jika Sultan Ageng Tintayasa dibiarkan berada di Surosowan maka dikhawatinkan oleh kom­peni Belanda akan dapat mempengaruhiSultan Haji yang sudah erat bekerjasama dengan komperii.
Sultan Ageng Tirtayasa dimasukkan ke dalain penjara ber­benteng dengan penjagaan serdadu kompeni hingga meninggal di penjana pada tahun 1692. Jenazahnya oleh Sultan Abul Mahasin Zainul Abidin (anaknya Sultan Haji) dan tenutama oleh nakyat Banten yang amat mencintainya dan mengakui sebagai pahiawan besan yang dengan gigihnya mempentahankan kemer­dekaan kesultanan Banten yang dimintakan kepada pemerintah tinggi kompeni Belanda untuk dikinimkan kembali. Kemudian dengan upacara keagamaan yang amat mengesankan Ia dimakamkan di samping Sultan-Sultan yang mendahuluinya di sebelah utara Mesjid Agung (Tjandnasasmita, 1967:46).
Sesudah masa Sultan Ageng Tirtayasa adalah menupakan masa sunutnya pengaruh politik kenajaan Banten. Banten telah ada dalam penganuh pengawasan Belanda. Sultan Ageng Tin­tayasa wafat di dalam penjara kompeni Belanda di Jakarta dan dimakamkan sebagai seorang pahlawan besar oleh raja dan rak­yat Banten serta dimakamkan di komplek makarn naja-raja Ban-ten yang terletak di sebelah utara serambi mesjid Agung Banten. Walaupun secara politis kekuasaan kerajaan dan peme­rintahan telah ada di tangan Belanda, namun pe~juangan dan syiar Islam masih tetap diteruskan oleh para pengikut yang setia kepada cita-cita perjuangan Sultan dan para pen­dahulunya. Perjuangan ternyata tidak terhenti walaupun sistem perjuangan yang dipakai sistem penang gerilya.
Ketika Sultan Ageng Tirtayasa wafat atas tipu daya Belan­da dan kerjasama Sultan Haji serta gugurnya Pangeran Kulon, semangat perjuangan menentang dominasi Belanda tidaklah barkurang. Hal mana menjadikan motivasi pejuang yang pro Sultan Ageng Tintayasa semakin meningkat kanena kekuasaan kerajaan Bariten di bawah Sultan Haji telah ada dalam peng­anuh politik Belanda. Jajanan pejuang terdini dan keluarga
kerajaan, pana ulama dan nakyat masih terus berjuang di hutan­hutan menentang kolonialisme Belanda. Tokoh gerilya itu dian­taranya adalah seorang ulama Banten asal Makasar yang diangkat mufti kenajaan Banten semasa Sultan Ageng Tirtayasa yang bennama Syekh Yusuf.


SILSILAH SULTAN AGENG TIRTAYASA
ABDUL FATH ‘ABDUL FATTAH (1851-1872)

Sultan Ageng Tirtayasa Abdul Fath ‘Abdul Fattah adalah putna Sultan Abdul Ma’ali Ahmad. Adapun Sultan Ageng Tin­tayasa Abdul Fath’ Abdul Fattah benputra:
1. Sultan Haji*) 16. Tubagus Muhammad Athif
2. Pg. Arya Abdul ‘Alim 17. Tubagus Abdul
3. Pg. Arya Ingayudadipuna 18. Ratu Baja Mirah
4. Pg. Anya Punbaya 19. Tubagus Kulon
5. Pangenan Sugiri 20. Ratu Kidul
6. Tubagus Rajasuta 21. Ratu Marta
7. Tubagus Rajaputna 22. Ratu Adi
8. Tubagus Husen 23. Ratu Uinu
9. Raden Mandaraka 24. Ratu Hadijah
10. Raden Saleh 25. Ratu Habibah
11. Raden Sum 26. Ratu Fatimah
12. Raden Mesir 27. Ratu Asyiqoh
13. Reden Muhammad 28. Ratu Nasibah
14. Raden Muhsin 29. Ratu Ayu
15. Tubagus Wetan

Share This!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger · Designed By Seo Blogger Templates